Mengenai Saya

Foto saya
saya itu orangnya bawel. banyak bicara ( ya bisa di umpamakan seperti kereta api). aku senang dengan suasana yang ramai (tapi jangan terlalu ramai). aku juga senang tertawa...

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PENDERITAAN PAHLAWAN YANG PUTUS ASA


PENDERITAAN PAHLAWAN YANG PUTUS ASA

17 Agustus 1945, hari itu sangat besejarah bagi negeri ini. Gapura-gapura yang di hiasi bendera merah putih. Umbul-umbul merah putih dan atribut-atribut kemerdekaan yang berkibar melambai-lambai menghiasi negeri Indonesia.
Di setiap Kantor Desa, Kecamatan, Kelurahan, RT, dan RW atribut-atribut tersebut meriah di pasang. Dengan penuh rasa gigih dan hati yang membara. Para warga dan pemuda-pemudi bergotong-royong memasang bendera merah-putih,serta atribut-atribut yang berbau kemerdekaan lainnya.

Upacara memperingati hari Kemerdekaan-pun setipa tahun di laksanakan dengan meriah dan dengan penuh rasa patriotisme yang sangat mendalam,serta diikuti seluruh masyarakat indonesia. Para pasukan Paskibraka berdiri tegak dan gigihnya, mengenakan baju berawarna putih-putih yang amat terlihat cerah dan suci serta mengenakan peci hitam yang di beri lambang burung garuda di sebelah kanan peci, dan dengan di iringi Pasukan Drumband. Mereka berbaris rapi tanpa ada yang menceloteh ataupun sekedar bertengak-tengok untuk meluruskan barisan. Tatapan yang penuh kewibawaan, dan pandangan hanya tertuju ke-depan. Di lapangan yang tak kalah di temani oleh teriknya sang mentari.
Lomba lomba tak ketinggalan juga di adakan di tiap Desa,RW,maupun RW, untuk memeriahkan HUT RI. Bagi mereka, lomba-lomba ini-lah saat-saat yang paling di nantikan oleh masyarakat. Karena,selain sebagai hiburan. Juga ada sensasi tersendiri, yaitu mendapatkan hadiah bila menang dalam suatu ajang perlombaan. Maka dari itu, setiap orang berlomba-lomba untuk berusaha menjadi yang terbaik dari saingannya.
Di makam Pahlawan, tempat inilah dimana orang-orang berziarah. Mendo’akan serta mentaburi bunga untuk para pemuda-pemudi pejuang dan pahlawan indonesia yang telah mempertaruhkan nyawa. Jiwa dan raga untuk memepertahankan kemerdekaan negeri ini. Mereka mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memperjuangkan negeri ini. Berjuang sampai titik darah penghabisan. Rela mati, dan tersiksa hanya untuk mempertahankan kemerdekaan negeri Indonesia tercinta ini.
Makam yang di penuhi dengan taburan bunga mawar dan melati,yang harum semerbak tertiup angin semilir.
Tak berbeda jauh dengan pemakaman yang berada di desa Pati, Jawa Tengah. Sebuah makam lama yang masih dihiasi dengan bendera merah putih, dan taburan bunga-bunga yang masih segar dan harum.
Semua warga Pati, umumnya sudah tahu bahwa yang menabur bunga dan selalu membacakan do’a di makam seorang pahlawan yang meninggal bunuh diri yang bernama Juanda adalah seorang perempuan yang bernama Nazmah yaitu isterinya dan seorang anak laki-laki yang bernama Panji yaitu anak dari pasangan suami istri Juanda dan Nazmah
Setiap tanggal 17 Agustus,Nazmah dan Panji selalu datang mengunjungi makam juanda, untuk menabur bunga dan membacakan do’a.
“Bagi saya, engkau-lah suami-ku sekaligus sang pejuang yang rela mengorbankan segala-galanya, aku akan selalu mengenang semua kenangan-kenangan kebaikan kau suami tercinta-ku” batin Nazmah, dalam hatinya yang sebenarnya sangat terpukul sekali. Karena, dia tidak bisa melihat mayat Juanda saat meninggal.
“Sudah-lah Bu.... biarkan bapak pergi dengan tenang. Dan Ibu tak usah bersedih. Kan ada Panji yang akan selalu menemani Ibu” hibur Panji, yang sedari tadi memegangi batu nisan makam Bapaknya, dengan memberikan taburan bunga.
Di mata Nazmah dan Panji, Juanda adalah seorang pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawanya untuk memperjuangkan negeri Indonesia tercinta ini. Pada saat merebut dan mempertahankan kemerdekaan, pejuang di Desa Pati hanya menggunakan senjata seadanya, yaitu bambu runcing dan dengan cara mereka masing-masing untuk berperang.
Pejuang melawan tentara penjajah tak sedikit pula yang berjuang sendiri atau berkelompok dengan teman-teman atau saudara, dan ada juga yang bergabung dengan Organisasi Ketentaraan Resmi. Di antaranya adalah Juanda.
*****

Suatu malam, terjadi pertempuran yang sangat dahsyat antara pejuang negeri dengan tentara penjajah. Pertempuran tersebut mengakibatkan timbulnya banyak korban jiwa yang tewas mati tertembak oleh tentara penjajah.
Banyak pemuda-pemuda Indonesia yang menjadi korban penembakan tentara penjajah. Pertempuran tersebut-pun mengakibatkan hilangnya salah satu pahlawan. Dan ternyata pahlawan itu adalah Juanda. Namun, disisi lain orang-orang beranggapan bahwa Juanda telah meninggal dunia. Anggapan tersebut-pun di perkuat.
Ketika pertempuran berlangsung, ada seorang laki-laki yang tewas. Orang-orang kesulitan untuk mengidentifikasi mayat laki-laki tersebut. Karena situasi dan kondisi yang sangat tidak dapat terkendali. Akhirnya, mayat laki-laki tersebut langsung di makamkan di TPU di Desa Pati, oleh para masyarkat setempat.

Usai pertempuran terjadi, barulah di ketahui bahwa ada salah seorang pejuang yang hilang entah kemana. Ia bernama Juanda.
Cerita-pun di sambungkan, dengan segera orang-orang berkesimpulan bahwa. Mayat laki-laki yang di makamkan di TPU yang berada di Desa Pati itu adalah mayat pejuang yang bernama Juanda.
Berita hilangnya Juanda akhirnya sampai ke telinga Nazmah. Setelah mendengar keterangan ini-itu. Nazmah sepakat, juga dengan keluarganya. Untuk mengakui bahwa Juanda telah meninggal dunia sebagia seorang pejuang.
Mereka yakin, bahwa makam yang ada di TPU yang berada di Desa Pati tadi adalah benar makam Juanda.
*****


Seperti biasanya. Setiap pagi sekitar pukul 09.30 WIB, pada tanggal 17 Agustus. Sebuah makam di ziarahi oleh seorang wanita dan anak laki-laki. Yaitu Nazmah dan Panji.
Pada setiap tahunnya, mereka berdua selalu menabur bunga. Di atas makam Juanda, tidak lupa di tancapkan bendera merah putih. Kemudian mereka mengangkat tangan dan berdoa ke pada sang Maha Pencipta.
“Semoga Mas Juanda di terima di sisi-Nya, kami rela di tinggal Mas, karena Mas Juanda telah berjuang untuk bangsa dan negara” kata Nazmah dengan khusyuknya ber-do’a.
“Pak,ini Panji anak bapak. Semoga jiwa juang bapak tertanam di hati Panji. Aminnn....” timpal panji tak kalah khusyuknya.
Tetapi,sebetulnya mereka tidak tahu. Bahwa dari kejauhan ada seorang laki-laki yang telah memperhatikan mereka, di balik batu besar yang sisinya rimbun dengan rerumputan yang amat lebat dan tinggi. Ada seorang laki-laki yang selalu memperhatikan keduanya ketika sedang berziarah ke makam tersebut. Namun, Nazmah dan Panji tidak melihat orang laki-laki tersebut. Mereka hanya tertuju pada mkam yang kini berada di depannya, dengan khusyuknya ber-doa.
Sebenarnya, orang laki-laki yang berada di balik batu tersebut adalah Juanda, dia masih hidup. Saat pertempuran terjadi, di hanya bersembunyi di tengah hutan untuk menyelamatkan diri dari serangan tentara penjajah. Namun, dengan keadaan fisik yang sudah cacat. Dia malu untuk menampakan dirinya serta menemui istri dan anaknya. Kaki sebelah kanan yang buntung,muka yang cacat, dan tangan kiri tak utuh. Selayaknya manusia yang sudah tak sempurna. Yang tak memiliki kaki yang lengkap, muka yang tak cacat, dan tangan yang masuh lengkap, utuh, dan normal.
Semua itu di sebabkan karena Juanda terkena ledakan ranjau yang ia injak di tengah hutan pada saat menyelamatkan diri dari petempuran melawan tentara penjajah waktu itu.
Dengan keadaan seperti ini, membuat Juanda takut dan minder untuk menemui keluarganya, ia takut tak di terima kembali dia menjadi stres, frustasi dengan keadaannya yang sekarang. Dengan keadaan tubuh yang sudah tak sempurna lagi.
“Aku ingin menemui istri dan anakku Panji. Tetapi,apakah mereka masih bisa menerimaku dengan keadaan yang sekarang ini?” harap Juanda, yang tanpa ia sadari air matanya yang telah menetes.
“Pejuang macam apa aku ini? Pejuang yang tak bisa mempertaruhkan jiwa dan ragaku untuk negeri tercintaku ini” sesal Juanda sambil memukuli kepalanya sendiri dengan tangan kanannya yang masih utuh.
“Jadi, buat apa aku hidup di dunia ini dengan setatus mamnusia yang tak sempurna. Yang tak memiliki organ tubuh yang lengkap.. BUAT APA AKU HIDUP, TAK ADA GUNANYA LAGI.... LEBIH BAIK AKU MATI SAJA !!” ia berteriak dengan kersanya, hingga otot-otot yang ada di lehernya terlihat dengan jelas.
Sampai pada suatu hari, Juanda mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Terjun dari atas jurang, dan tubuhnya terhempas ke sungai. Semua itu terjadi, karena dia tak sanggup lagi menahan beban penderitaan selama hidupnya.
Mayatnya di temukan oleh seorang warga desa, berita ini telah heboh di Desa tersebut. Karena ditemukannya sesosok mayat yang terapung di sungai. Mereka semua sangat kesulitan mengenali wajah mayat tersebut, dan sangat sulit untuk mengenali fisiknya. Juga karena, telah hancur rata-rata bentuk wajahnya. Kejadia itu sangat menghebohkan masyarakat desa tersebut, termasuk juga Nazmah.
Para warga desa tersebut berbondong-bondong mendatangi mayat laki-laki tersebut untuk menyaksikan, karena penasaran, Nazmah pun ikut mendatanginya, hatinya merasa berbeda saat mendengar pengumuman dari warga desa. Ia merasa bahwa jiwanya di panggil untuk pergi melihat mayat tersebut. Dengan perasaan was-was dia lari menuju ke tempat mayat tersebut di temukan bersama anak laki-lakinya yaitu Panji.
Sesampainya di sana dia kaget melihat kondisi fisik laki-laki tersebut. Tetapi yang lebih membuat dia sock adalah, melihat cincin yang melingkar di jari telunjuk tangan kanan laki-laki itu. Cincin itu adalah, cincin pernikahan keduanya. Dia menangis histeris, saat mengetahui bahwa orang yang meninggal tersebut adalah Juanda suaminya. Jadi selama, bertahun-tahun dia berziarah ke makam yang di kira suaminya, ternyata salah. Makam tersebut bukan makam Juanda. Makam laki-laki yang terbunuh pada saat perang sambil mendekap Panji yaitu anak laki-lakinya
“Ya Allah...kenapa Engkau baru pertemukan diriku dengan suamiku ? Mengapa tidak dari dulu ya Allah....
“Benar, perasaan-ku tak bisa di bohongi. Hamba merasa, makam yang ada di Pati itu bukanlah makam suamiku” perasaan campur aduk yang Nazmah rasakan saat itu.
Akhirnya, mayat tersebut di bawa oleh warga, pulang ke rumah Nazmah. Di sana mayat tersebut di sucikan dan di shalati. Dan akhirnya di makamkan.
Perasaan Nazmah dan anaknya sangat sedih. Tetapi dia harus bersyukur masih di pertemukan dengan suami dan Bapak dari Panji. Nazmah mengambil semua hikmah yang ada dalam peristiwa atau kejadian tersebut.
Dan akhirnya dia mengerti apa yang direncanakan Tuhan selama ini adalah yang terbaik untuk dirinya. Nazmah dia ingin bahwa dosa-dosa suaminya selama masih hidup. Bisa di ampuni oleh Allah. Serta segala amal ibadah selama hidup-nya bisa di terima baik di sisi sang maha pencipta.



*****SEKIAN*****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar