riwayat tantowi ahmad
22.17 |
Tantowi Ahmad (lahir di Banyumas, , 18 Juli 1987; umur 24 tahun) adalah pemain bulu tangkis ganda Campuran Indonesia yang berpasangan dengan Lilyana Natsir.
beberapa kejuaraan yang telah di raih oleh TANTOWI AHMAD (sang pemain bulu tangkis dari Indonesia)
2008
- Perempat final Yonex German Open 2008 (bersama Muhammad Rijal)
- Juara Vietnam GP 2008 (bersama Shendy Puspa Irawati)
] 2009
- Semi final Yonex Sunrise India Open 2009 (bersama Richi Puspita Dili)
- Juara Vietnam International Challenge 2009 (bersama Richi Puspita Dili)
- Semi final New Zealand Open Grand Prix 2009 (bersama Richi Puspita Dili)
- Semi final CHINESE TAIPEI GRAND PRIX GOLD 2009 (bersama Richi Puspita Dili)
- Semi final Yonex-Sunrise Vietnam Open GP 2009 (bersama Richi Puspita Dili)
2010
- Perempat final Yonex-Sunrise Badminton Asia Championships 2010 (bersama Greysia Polii)
- Juara Kumpoo Macau Open Badminton Championships (bersama Lilyana Natsir)
- Runner-Up Chinese Taipei GP Gold (bersama Lilyana Natsir)
- Juara INDONESIA GRAND PRIX GOLD 2010 (bersama Lilyana Natsir)
2011
- Perempat final Victor Korea Open Super Series Premier 2011 (bersama Lilyana Natsir)
- Semi final WILSON Swiss Open Grand Prix Gold 2011 (bersama Lilyana Natsir)
- Juara India Superseries (bersama Lilyana Natsir)
- Juara Malaysia GP Gold (bersama Lilyana Natsir)
- Juara Singapura Superseries (bersama Lilyana Natsir)
- Runner-up Indonesia Open Superseries Premier 2011 (bersama Lilyana Natsir)
- Semi final Yonex BWF World Championships 2011 (bersama Lilyana Natsir)
- Perempat final Bankaltim Indonesia Open GP Gold 2011 (bersama Lilyana Natsir)
foto-foto dan pose-pose TANTOWI AHMAD bersama pasangan mainnya yaitu LILIANA NATSIR saat bertanding
Tantowi Ahmad
YANG TERSISA SAAT TSUNAMI ACEH TERJADI
22.04 |
Hari ini televisi-televisi nasional menyiarkan peringatan lima tahun Tragedi Tsunami Aceh. Lima tahun lalu, 26 Desember 2004 bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia benar-benar mengguncang dunia. Gempa besar dengan skala 8,9 SR disusul tsunami dahsyat menyapu bersih pantai-pantai Aceh, sebagian Sumatera Utara, bahkan hingga ke Somalia di benua Afrika yang berjarak ribuan kilometer dari pusat gempa di sebelah barat Provinsi Aceh.
Sesaat setelah tsunami surut, tak banyak bangunan yang tersisa di sepanjang pantai barat dan utara Aceh, semua tinggal garis-garis bekas pondasi rumah atau sekolah-sekolah, menunjukkan bagaimana kekuatan tsunami yang terjadi, tidak sedikit rekaman video amatir yang beredar di televisi untuk menggambarkan kedahsyatannya.
Namun, di balik luluh-lantaknya wilayah pantai Aceh tersebut, Allah berkehendak lain, Dia masih meninggalkan sedikit pohon dan rumah-Nya guna menjadi peringatan bagi warga Aceh dan manusia pada umumnya.
Di Ulee Lheue, Banda Aceh, Masjid Baiturrahim masih tampak tegar. Bangunan yang berada dekat tepi pantai dan pelabuhan kecil tersebut tetap utuh. Tsunami hanya mampu menjebol pagar dan kaca-kaca masjid tersebut. Daerah sekitar masjid hingga berkilo-kilo meter rata dengan tanah. Di Kampung Cot, Meulaboh, Aceh Barat, hanya masjid Al Hidayah yang menjadi satu-satunya bangunan yang tetap utuh. Menurut imam masjid tersebut, Tengku Usman Bakar, masjid Al-Hidayah sering digunakan untuk pengajian rutin guna menyaingi pesta hura-hura muda-mudi di sepanjang pantai Meulaboh. (Sumber).
Selain kedua tempat ibadah tersebut, masih banyak bangunan serupa yang tidak ikut tersapu tsunami 26 Desember 2004. Entah karena mukjizat atau struktur teknis bangunan yang menjadikan rumah-rumah Allah tetap kokoh meski diterjang ribuan ton kubik air bah, yang jelas hal itu cukup menjadi pelajaran bagi manusia yang masih hidup untuk kembali ke rumah-rumah-Nya. “Ini isyarat bahwa kalau ingin selamat dalam hidup, maka berlindunglah pada Allah di masjid-masjid itu, kembalilah ke masjid,” terang Alyasa Abu Bakar, salah seorang tokoh masyarakat Aceh.
Di samping itu ada juga yang sempat berpikir, “Masjid-masjid di Aceh itu dibangun atas dasar keikhlasan, bukan dari uang hasil korupsi.” Bisa jadi orang itu benar!
Hikmah lain yang bisa dipetik dari Tragedi Tsunami Aceh lima tahun lalu adalah jangan takut terhadap ombak laut, namun takutlah kepada Allah, Penguasa Alam Semesta.
TSUNAMI ACEH 2004
Sesaat setelah tsunami surut, tak banyak bangunan yang tersisa di sepanjang pantai barat dan utara Aceh, semua tinggal garis-garis bekas pondasi rumah atau sekolah-sekolah, menunjukkan bagaimana kekuatan tsunami yang terjadi, tidak sedikit rekaman video amatir yang beredar di televisi untuk menggambarkan kedahsyatannya.
Namun, di balik luluh-lantaknya wilayah pantai Aceh tersebut, Allah berkehendak lain, Dia masih meninggalkan sedikit pohon dan rumah-Nya guna menjadi peringatan bagi warga Aceh dan manusia pada umumnya.
Di Ulee Lheue, Banda Aceh, Masjid Baiturrahim masih tampak tegar. Bangunan yang berada dekat tepi pantai dan pelabuhan kecil tersebut tetap utuh. Tsunami hanya mampu menjebol pagar dan kaca-kaca masjid tersebut. Daerah sekitar masjid hingga berkilo-kilo meter rata dengan tanah. Di Kampung Cot, Meulaboh, Aceh Barat, hanya masjid Al Hidayah yang menjadi satu-satunya bangunan yang tetap utuh. Menurut imam masjid tersebut, Tengku Usman Bakar, masjid Al-Hidayah sering digunakan untuk pengajian rutin guna menyaingi pesta hura-hura muda-mudi di sepanjang pantai Meulaboh. (Sumber).
Selain kedua tempat ibadah tersebut, masih banyak bangunan serupa yang tidak ikut tersapu tsunami 26 Desember 2004. Entah karena mukjizat atau struktur teknis bangunan yang menjadikan rumah-rumah Allah tetap kokoh meski diterjang ribuan ton kubik air bah, yang jelas hal itu cukup menjadi pelajaran bagi manusia yang masih hidup untuk kembali ke rumah-rumah-Nya. “Ini isyarat bahwa kalau ingin selamat dalam hidup, maka berlindunglah pada Allah di masjid-masjid itu, kembalilah ke masjid,” terang Alyasa Abu Bakar, salah seorang tokoh masyarakat Aceh.
Di samping itu ada juga yang sempat berpikir, “Masjid-masjid di Aceh itu dibangun atas dasar keikhlasan, bukan dari uang hasil korupsi.” Bisa jadi orang itu benar!
Hikmah lain yang bisa dipetik dari Tragedi Tsunami Aceh lima tahun lalu adalah jangan takut terhadap ombak laut, namun takutlah kepada Allah, Penguasa Alam Semesta.
TSUNAMI ACEH 2004
Langganan:
Komentar (Atom)






























